Jumat, 20 Desember 2019

Viscose Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan


Viscose Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan
Sumber: infojambi.com

Kampanye sustainable fashion terus digaungkan. Kepedulian masyarakat akan kelangsungan dan kelestarian lingkungan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya sampah plastik. Penggunaan kain sintetis berbahan dasar plastik pun terus ditekan. Atas dasar inilah, pemanfaatan viscose dalam industri fashion terus tumbuh dan mendorong perusahaan SukantoTanoto untuk ikut menjadi bagian dari perubahan.

Viscose merupakan produk tekstil yang berasal dari serat kayu. Karena terbuat dari bahan alami, bahan tekstil yang satu ini cenderung lebih mudah terurai. Sifatnya yang lebih ramah lingkungan menjadi alasan kenapa viscose dipilih sebagai salah satu jawaban dalam mewujudkan sustainable fashion. Namun di tangan unit bisnis Sukanto Tanoto, nilai viscose sebagai bahan tekstil ramah lingkungan dikembangkan ke level yang lebih tinggi.

Asia Pacific Rayon dan Produksi Viscose Yang Terintegrasi


Dalam industri serat viskose, Sukanto Tanoto memiliki dua unit bisnis yang menjadi ujung tombaknya. Kedua unit bisnis tersebut adalah Sateri dan Asia Pacific Rayon (APR).

Sateri sendiri merupakan produsen serat viscose yang bermarkas di Cina dengan kapasitas produksi mencapai 1,1 juta ton metrik per tahunnya. Di sisi lain, APR merupakan unit bisnis Royal Golden Eagle yang masih terbilang baru. Pabriknya sendiri baru mulai beroperasi pada tahun 2019 lalu. Meski kapasitas produksinya masih di angka 240.000 ton metrik, unit bisnis Sukanto Tanoto ini memiliki kelebihan yang menjadikannya sebagai salah satu produsen viscose yang paling dekat dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Asia Pacific Rayon (APR) merupakan produsen viscose terintegrasi pertama di Asia. Konsep terintegrasi secara penuh ini memungkinkan APR menerapkan praktek operasional produksi yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sebagian besar bahan baku viscose APR diambil dari hutan tanaman industri milik APRIL Group yang juga merupakan salah satu unit bisnis Royal Golden Eagle. Hutan tanaman industri tersebut juga sudah memiliki sertifikasi internasional PEFC dan dikelola dengan cara-cara yang lestari.

Proses produksi viscose APR juga dilakukan dengan berpegang pada prinsip keberlanjutan. Peningkatan pemulihan bahan kimia dan menurunkan emisi yang dihasilkan adalah cara yang ditempuh APR dalam mencapai tujuan tersebut.

Wujudkan Transparansi Rantai Produksi dengan Teknologi


Perusahaan bisa saja mengklaim bahwa pihaknya telah menerapkan praktek industri yang berkelanjutan. Namun jika klaim tersebut hanya berasal dari pihak perusahaan, validitasnya jelas patut dipertanyakan. Transparansi rantai produksi juga dibutuhkan sebagai alat monitoring publik.

Untuk mewujudkan transparansi rantai produksi, Asia Pacific Rayon (APR) mengembangkan aplikasi “Follow Our Fibre”. Aplikasi mobile yang dibangun di atas teknologi blockchain ini dibuat untuk membantu pelanggan memeriksa asal usul produk viscose yang mereka beli langsung dari smartphone yang mereka miliki.

Follow Our Fibre” tercipta dari kerja sama antara Asia Pacific Rayon (APR) dengan Perlin. Perlin sendiri merupakan perusahaan pengembang teknologi blockchain. Pemilihan teknologi blockchain sebagai fondasi aplikasi ini tidak lepas dari karakteristiknya yang memiliki aksesibilitas tinggi, terintegrasi dan aman.

Untuk melacak asal usul rayon viscose, pelanggan dapat memindai barcode atau memasukkan batch ID dari produk yang mereka beli. Setelah itu, sistem akan menunjukkan informasi lengkap mengenai rantai produksi dari viscose tersebut mulai dari pembibitan hingga menjadi sebuah produk.

Komitmen Asia Pacific Rayon (APR) dalam mendukung terwujudnya sustainable fashion juga diwujudkan dalam bentuk sponsorship terhadap ajang peragaan busana yang mengampanyekan isu kelestarian lingkungan. Mulai dari MUFFEST 2019 hingga Bali Fashion Trend 2020, unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut ikut terlibat dalam pelaksanaannya.